Menelisik Kesenian Tembang Cianjuran







Menelisik Kesenian Tembang Cianjuran, jadi Salah satu penopang sejarah berdirinya Cianjur. Dengan segala keramahannya Kota Cianjur yang juga terkenal dengan Kota Santri tidak lepas jg dari kesenian khas Kota Tauco tersebut. Sampai Saat ini, Tembang Cianjuran kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah pertunjukkan kesenian pada acara-acara penyambutan tamu bagi masyarakat Sunda, seperti pernikahan ataupun khitanan. Alunan suara sekar (sinden) yang merdu diiringan instrumen kecapi dan suling membuat suasana lebih anggun, santun, khidmat dan penuh dengan ramah-tamah. Sehigga para tamu yang datang pasti akan hanyut terbawa suasana yang ada. Jika dikatakan Tembang Cianjuran adalah musik sunda yang memiliki warna musik begitu mempesona, anggun, lembut dan halus. Hal tersebut memang sangat erat hubungannya dengan cikal bakal dan perkembangan Tembang Cianjuran.


Seni Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta rasa dan karsa Bupati Cianjur IX, R. Aria Adipati Kusumaningrat (1834-1861), atau lebih sering dikenal dengan sebutan “Dalem Pancaniti”. Namun dalam penyempurnaannya hasil ciptaannya tersebut, dalem Pancaniti dibantu oleh seniman kabupaten yaitu: Rd. Natawiredja, Aem dan Maing Buleng. Ketiga orang inilah yang kemudian mendapat izin Dalem Pancaniti untuk menyebarkan lagu-lagu Cianjuran.



Pada zaman pemerintahan R.A.A Prawiradiredja II (1861-1910), seni Tembang Cianjuran disempurnakan lagi aturannya. Dengan ditambah iringan suara kecapi dan suling, maka lahirlah Tembang Cianjuran yang dikenal sampai saat ini.

Tembang Cianjuran pada awalnya merupakan musik yang penuh prestise para bangsawan. Oleh sebab itu, kehadiran Tembang Cianjuran pada awalnya diperuntukkan bagi para pejabat atau masyarakat kelas tinggi. Dan karena itu juga tempat pertunjukkannya selalu berada pada pendopo-pendopo kabupaten. Biasanya untuk acara-acara resmi penyambutan tamu bupati atau upacara-upacara resmi hari besar nasional.
Namun dalam pertumbuhan dan perkembangannya seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat Tembang Cianjuran telah menjadi begitu akrab dimasyarakat. Tembang Cianjuran yang tadinya hanya dapat dinikmati oleh kaum bangsawan, berkembang menjadi musik yang berakar pada tradisi kerakyatan. Kini, Tembang Cianjuran sangat mudah ditemui dalam acara pesta-pesta perkawinan masyarakat cianjur (Sunda).

Penikmat Tembang Cianjuran memang tidak sebanyak jenis kesenian lain, seperti musik pop. Tetapi peminat dan penikmat Tembang Cianjuran cukup signifikan. Beberapa seniman seniman Tembang Cianjuran mengembangkan yang tidak terbatas lagi pada Kacapi Suling Tembang Cianjuran tetapi juga Kacapi Suling Pop Cianjuran.

Meski ditelan badai modernasi Tembang Cianjuran termasuk jenis kesenian yang masih mendapat respon positif dari masyarakat global, kehadirannya diterima baik oleh semua pihak. Baik masyarakat lokal maupun internasional ikut serta melestarikan warisan budaya sunda ini. Buktinya, sampai saat ini masih banyak dijumpai para mahasiswa asing yang serius mempelajari kesenian Tembang Cianjuran. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa berasal Amerika Serikat, Norwegia, Eropa, Jepang, dan negara Asia lainnya.

Mempelajari Seni Sunda Tembang Cianjuran tidaklah terlalu sulit, walupun tidak semudah mempelajari Seni Sunda Angklung misalnya. Tingkat kesulitan mempelajari Tembang Cianjuran bergantung pada grade atau level saat mereka mencoba memainkan alat musik tersebut. Seorang pemula yang belum pernah sama sekali memainkan alat musik tembang kecapi suling cianjuran kira-kira akan memakan waktu 3-6 bulan untuk memainkan jenis musik yang diinginkan.

Rasanya kurang pas jika seseorang hanya mempelajari bagaimana memainkan instrumen-instrumen dan olah vokal Tembang Cianjuran saja. Sebab seni ini memiliki kekayaan budaya yang tersimpan. Salah satunya adalah kandungan arti yang tersimpan di balik syair-syairnya. Dalam setiap syair-syairnya sang penikmat dapat menemukan sebuah vocal wisdom (kearifan vokal) berupa alam yang harmoni, keseimbangan, rendah hati, kasih sayang, kebijakan dll. Peminat Tembang Cianjuran dituntut untuk mengungkap pesan-pesan yang tersimpan dalam isi syairnya. Tembang Cianjuran kini menjadi pembeda di tengah hingar-bingar budaya pop yang semakin mengglobal.

Tembang Cianjuran sangat kental dengan identitas kesundaannya. Akan sangat disayangkan bila para generasi muda mulai meninggalkan kesenian ini. Di tengah krisis kehilangan identitas bangsa ini, ada sebuah pertanyaan yang patut di kemukakan: Jika orang asing dengan serius mempelajari Tembang Sunda Cianjuran, masih adakah alasan bagi generasi muda untuk meninggalkannya?.
Tembang Cianjuran
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Di tempat kelahirannya, Cianjur, sebenarnya nama kesenian ini adalah mamaos. Dinamakan tembang Sunda Cianjuran sejak tahun 1930-an dan dikukuhkan tahun 1962 ketika diadakan Musyawarah Tembang Sunda sa-Pasundan di Bandung. Seni mamaos merupakan seni vokal Sunda dengan alat musik kacapi indung, kacapi rincik, suling, dan atau rebab.

Sejarah
Mamaos terbentuk pada masa pemerintahan bupati Cianjur RAA. Kusumaningrat (1834—1864). Bupati Kusumaningrat dalam membuat lagu sering bertempat di sebuah bangunan bernama Pancaniti. Oleh karena itulah dia terkenal dengan nama Kangjeng Pancaniti. Pada mulanya mamaos dinyanyikan oleh kaum pria. Baru pada perempat pertama abad ke-20 mamaos bisa dipelajari oleh kaum wanita. Hal ituTerbukti dengan munculnya para juru mamaos wanita, seperti Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu O’oh, Ibu Resna, dan Nyi Mas Saodah.
Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suara Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca), degung, serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh. Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun atau papantunan, atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Sedangkan lagu-lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang. Keduanya menunjukan kepada peraturan rumpaka (teks). Sedangkan teknik vokal keduanya menggunakan bahan-bahan olahan vokal Sunda. Namun demikian pada akhirnya kedua teknik pembuatan rumpaka ini ada yang digabungkan. Lagu-lagu papantunan pun banyak yang dibuat dengan aturan pupuh.
Pada masa awal penciptaannya, Cianjuran merupakan revitalisasi dari seni Pantun. Kacapi dan teknik memainkannya masih jelas dari seni Pantun. Begitu pula lagu-lagunya hampir semuanya dari sajian seni Pantun. Rumpaka lagunya pun mengambil dari cerita Pantun Mundinglaya Dikusumah.
Pada masa pemerintahan bupati RAA. Prawiradiredja II (1864—1910) kesenian mamaos mulai menyebar ke daerah lain. Rd. Etje Madjid Natawiredja (1853—1928) adalah di antara tokoh mamaos yang berperan dalam penyebaran ini. Dia sering diundang untuk mengajarkan mamaos ke kabupaten-kabupaten di Priangan, di antaranya oleh bupati Bandung RAA. Martanagara (1893—1918) dan RAA. Wiranatakoesoemah (1920—1931 & 1935—1942). Ketika mamaos menyebar ke daerah lain dan lagu-lagu yang menggunakan pola pupuh telah banyak, maka masyarakat di luar Cianjur (dan beberapa perkumpulan di Cianjur) menyebut mamaos dengan nama tembang Sunda atau Cianjuran, karena kesenian ini khas dan berasal dari Cianjur. Demikian pula ketika radio NIROM Bandung tahun 1930-an menyiarkan kesenian ini menyebutnya dengan tembang Cianjuran.

Pertunjukan
Sebenarnya istilah mamaos hanya menunjukkan pada lagu-lagu yang berpolakan pupuh (tembang), karena istilah mamaos merupakan penghalusan dari kata mamaca, yaitu seni membaca buku cerita wawacan dengan cara dinyanyikan. Buku wawacan yang menggunakan aturan pupuh ini ada yang dilagukan dengan teknik nyanyian rancag dan teknik beluk. Lagu-lagu mamaos berlaras pelog (degung), sorog (nyorog; madenda), salendro, serta mandalungan. Berdasarkan bahan asal dan sifat lagunya mamaos dikelompokkan dalam beberapa wanda, yaitu: papantunan, jejemplangan, dedegungan, dan rarancagan. Sekarang ditambahkan pula jenis kakawen dan panambih sebagai wanda tersendiri. Lagu-lagu mamaos dari jenis tembang banyak menggunakan pola pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, serta ada di antaranya lagu dari pupuh lainnya.
Lagu-lagu dalam wanda papantunan di antaranya Papatat, Rajamantri, Mupu Kembang, Randegan, Randegan Kendor, Kaleon, Manyeuseup, Balagenyat, Putri Layar, Pangapungan, Rajah, Gelang Gading, Candrawulan, dsb. Sementara dalam wanda jejemplangan di antaranya terdiri dari Jemplang Panganten, Jemplang, Cidadap, Jemplang Leumpang, Jemplang Titi, Jemplang Pamirig, dsb. Wanda dedegungan di antaranya Sinom Degung, Asmarandana Degung, Durma Degung, Dangdanggula Degung, Rumangsang Degung, Panangis Degung dan sebagainya. Wanda rarancagan di antaranya; Manangis, Bayubud, Sinom Polos, Kentar Cisaat, Kentar Ajun, Sinom Liwung, Asmarandana Rancag, Setra, Satria, Kulu-kulu Barat, Udan Mas, Udan Iris, Dangdanggula Pancaniti, Garutan, Porbalinggo, Erang Barong dan sebagainya. Wanda kakawen di antaranya: Sebrakan Sapuratina, Sebrakan Pelog, Toya Mijil, Kayu Agung, dan sebagainya. Wanda panambih di antaranya: Budak Ceurik, Toropongan, Kulu-kulu Gandrung Gunung, Renggong Gede, Panyileukan, Selabintana, Soropongan, dsb.
Pada mulanya mamaos berfungsi sebagai musik hiburan alat silaturahmi di antara kaum menak. Tetapi mamaos sekarang, di samping masih seperti fungsi semula, juga telah menjadi seni hiburan yang bersifat profit oleh para senimannya seperti kesenian. Mamaos sekarang sering dipakai dalam hiburan hajatan perkawinan, khitanan, dan berbagai keperluan hiburan atau acara adat.

Menelisik Kesenian Tembang Cianjuran, jangan sampai Kesenian Tembang Cianjur lenyap karna tergerus zaman. Sebagai generasi muda mempunyai kewajiban untuk melestarikan Budaya Kesenian Tembang Cianjuran. Jadikan Kesenian Tembang Cianjuran menjadi salah satu identitas dan ciri khas Kota Cianjur.

Mengenal Kesenian Rengkong Khas Cianjur

Mengenal Kesenian Rengkong Khas Cianjur, yang hampir punah terkikis Zaman. hanya segelintir yang masih Mengenal Kesenian Rengkong Khas Cianjur dan menjadi salah satu tonggak sejarah berdiri nya Cianjur hingga sekarang. Ini sedikit mengenal Kesenian Rengkong Khas Cianjur.


Sejarah
Cianjur adalah salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam Kabupaten Cianjur. Masyarakatnya sebagian besar beragama Islam dan pada umumnya menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam. Di daerah ini, tepatnya di Kampung Kandangsapi, Desa Cisarandi, Kecamatan Warungkondang ada sebuah kesenian tradisional yang bernama “rengkong”. Asal-usul kesenian ini bermula dari pemindahan padi huma (ladang) ke saung (lumbung padi). Masyarakat Jawa Barat pada umumnya, termasuk masyarakat Warungkondang (Cianjur), di masa lalu --sebelum mengenal bercocok tanam padi di sawah (sistem irigarasi)-- pada umumnya adalah sebagai peladang (ngahuma) yang berpindah-pindah. Padi ladang yang telah dituai tentunya tidak dibiarkan di ladang, tetapi mesti dibawa pulang. Mengingat bahwa jarak antara areal ladang dan pemukiman (rumah peladang) relatif jauh, maka diperlukan suatu alat untuk membawanya, yaitu pikulan yang terbuat dari bambu. Mereka menyebutnya sebagai “awi gombong”. Pikulan yang diberi beban padi kurang lebih 25 kilogram yang diikat dengan injuk kawung (tali ijuk) ini jika dibawa akan menimbulkan suara atau bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan batang pikulan itu sendiri. Dan, bunyi yang dihasilkan menyerupai suara burung rangkong (sejenis angsa). Oleh karena itu, ketika bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan dikembangkan menjadi sebuah jenis kesenian disebut “rengkong”.

Konon, kesenian rengkong ini dikenal oleh masyarakat Warungkondang, khususnya masyarakat Kampung Sukaratu, Desa Cisarandi, sejak akhir abad ke-19. Adupan orang memperkenalkan dan atau mengembangkannya adalah Said (almarhum). Di kampung lain (Sukaratu) dikembangkan oleh seorang pengusaha genteng (1920--1967). Jadi, beban yang semula berupa padi diganti dengan genteng. Sedangkan, di Kampung Kandangsapi dikembangkan oleh Sopian sejak tahun 1967.

Peralatan
Peralatan yang diperlukan untuk mewujudkan kesenian yang disebut sebagai rengkong ini adalah peralatan yang menghasilkan bunyi rengkong itu sendiri dengan berbagai ukuran (ada yang besar dan kecil). Peralatan itu terdiri dan atau terbuat dari pikulan, tambang ijuk, padi, dan minyak tanah. Pikulan terbuat dari dari sebatang awi gombong (bambu gombong) yang tipis dengan panjang 2 atau 2,5 meter. Ujung yang satu dan lainnya terbuka (tidak tertutup oleh ruas bambu). Kemudian, kurang lebih 30 centimeter dari ujung-ujungnya dilubangi (menyerupai kentongan) sepanjang kurang lebih 38 centimeter. Tambang ijuk yang panjangnya 2 sampai 2,5 meter berfungsi sebagai pengikat padi padi yang akan digantungkan pada sebatang awi gombong yang berfungsi sebagai pikulan. Kemudian, padi yang beratnya 20—25 kilogram sebagai beban pikulan. Lebih dari itu dikhawatirkan pikulan akan patah. Dan, minyak tanah berfungsi sebagai pengesat gesekan antara tali dan pikulan, sehingga gesekan menghasilkan bunyi yang nyaring. Peralatan lainnya adalah dodog dan angkung buncis.

Pemain dan Busana
Jumlah pemain rengkong secara keseluruhan ada 14 orang dengan rincian: 2 orang sebagai pembawa rengkong besar; 3 orang sebagai pembawa rengkong kecil; 4 orang sebagai pemain dodog, yaitu dodog: tingrit, tongsong, brung-brung, dan gedeblag; dan pemain angklung buncis yang terdiri atas 5 orang. Sedangkan, busana atau pakaian yang dikenakan adalah pakaian tradisional yang berupa: kampret atau pangsi, ikat kepala, dan sarung.

Pementasan
Kesenian rengkong yang ada di Warungkondang ini biasanya hanya dipentaskan dalam rangka memeriahkan hari-hari besar agama dan atau nasional (17 Agustusan) dalam bentuk arak-arakan. Dalam sebuah pementasan biasanya pemain rengkong yang berjumlah 5 orang berada di barisan depan. Kemudian, diikuti oleh para pemain angklung buncis dan para pemain dodog. Namun demikian, adakalanya pementasan dikemas secara kolektif. Artinya, para pemain boleh bergerak kemana saja (bercampur jadi satu).

Fungsi
Ketika rengkong belum dikembangkan menjadi sebuah jenis kesenian, ia semata-mata hanya berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari seseorang yang membawa beban (padi) dengan cara dipikul. Dalam hal ini gesekan antara tali pikulan dan pikulan dimanfaatkan sebagai irama pengiring, sehingga beban yang relatif berat tidak begitu dirasakan karena karena diiringi oleh bunyi-bunyian yang khas. Dan, ketika rengkong menjadi sebuah jenis kesenian fungsinya juga tidak jauh berbeda, yaitu sebagai hiburan.

Sebagai catatan, kesenian yang disebut sebagai rengkong ini tidak hanya ada di daerah Cianjunr semata, tetapi juga di daerah Sukabumi dan Banten. Bedanya, di kedua daerah tersebut rengkong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi ada fungsi lain yang melatarbelakanginya, yaitu ungkapan terima kasih kepada Dewi padi yang telah memberikan kesejahteraan berupa panen yang melimpah. Oleh karena itu, rengkong selalu ditampilkan dan kegiatan atau upacara penyimpanan padi ke lumbung.

Nilai Budaya

Kesenian adalah ekspresi jiwa manusia yang terwujud dalam keindahan. Oleh karena itu, kesenian apapun termasuk kesenian rengkong yang didukung dengan peralatan sederhana, mengandung nilai estetika (keindahan). Namun demikian, jika dikaji secara teliti kesenian yang disebut sebagai rengkong ini tidak hanya mengandung nilai estetika saja, tetapi ada nilai-nilai lainnya yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja keras dan kerjasama. Nilai kerja keras tercermin dalam membunyikan suara khas yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan. Ini artinya, padi dengan berat tertentu dipikul. Dan, ini tentunya memerlukan kerja keras. Kemudian, nilai kerja sama tercermin dalam pementasan. Dalam hal ini tanpa kerja sama yang baik mustahil pementasan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Malahan, ada nilai lainnya (religius) sebagaimana yang ditunjukkan oleh masyarakat Sukabumi dan Banten. 

Mengenal Kesenian Rengkong Khas Cianjur.

Menelisik Sejarah Cianjur






Menelisik Sejarah Cianjur
dengan berdirinya Kabupaten Cianjur berdasarkan dokumen yang ada di awali dari adanya Kerajaan Talaga di kaki Gunung Ceremai yang dipimpin oleh seorang raja bernama
 Sunan Wanapri yang mempunyai seorang putra bernama Sunan Ciburang, beliau juga memiliki seorang putra yang bernama Aria Wangsa Goparana. Tokoh inilah yang kemudian berpindah tempat dan menetap di Kampung Nangkabeurit, Sagaraherang dan mendirikan sebuah pesantren bersama dengan cacah atau rakyat yang mengikutinya.
Para putra Aria Wangsa Goparana kemudian melakukan perpindahan bersama cacahnya masing-masing, salah satu putra Aria Wangsa Goparana yang bernama Jayasasana arkhirnya tinggal didekat aliran sungai Cijagang (Cikundul) bersama cacahnya yang kemudian dinamakan Cacah Jayasasana.
Sejalan dengan fungsinya dan perkembangnya cacah Jayasasana kemudian berkembang menjadi babakan, lembur, kampung, kemudian nagri dan akhirnya menjadi padaleman sehingga kemudian terbentuklah kadaleman Jayasasana di daerah Cikundul dan akhirnya terkenal dengan sebutan Dalem Cikundul sesuai dengan nama daerahnya yaitu Cikundul.  Dan Jayasasana menjadi dalem Cikundul dengan gelar Aria Wira Tanu.
Pada saat itu menurut cacatan terdapat juga beberapa kadaleman di wilayah Cianjur, diantaranya Padaleman Cipamingkis, Cimapag, Cibalagung, Cihea yang masing-masing dipimpin oleh seorang dalem. Namun akhirnya diantara dalem-dalem tersebut tercapai kesepakatan untuk menyatukan kekuasaan masing-masing di dalam kekuasaan baru yang bernama Kadaleman Cianjur yang dipimpin oleh Aria Wira Tanu karena dianggap paling tua dan berwibawa.
Menurut Otto van Rees bahwa Padelaman Cianjur ini sudah ada sejak tahun 1619, karena sebelum tahun itu tidak pernah terdengar suatu wilayah yang bernama Cianjur. Namun demikian berdasarkan cacatan sejarah dari Cikundul-bond bahwa terbentuknya padaleman Cianjur sekitar tahun 1677 sesuai dengan penyerahan wilayah priangan yang berbatasan dengan sungai Cisadane dan Citarum dari Mataram ke VOC yang terjadi pada tanggal 19-20 Oktober 1677.
Karena berada di bawah kekuasaan VOC inilah istilah dalem kemudian dirubah menjadi Regent (Bupati). dan itu dilaksanakan  sejak masa pemerintahan Aria Wira Tanu II yaitu Raden Aria Wiramanggala (Dalem Tarikolot) (1691-1707). Sepeninggalan Aria Wira Tanu II, Regent Cianjur dilanjutkan kepada anak pertama dari Raden Aria Wiramanggala, yaitu Raden Aria Astramanggala atau terkenal dengan Aria Wira Tanu III, yang memindahkan ibukota Cianjur di Pamoyanan ke Kampung Cianjur. Oleh sebab itu Aira Wira Tanu III sering disebut sebagai pendiri Cianjur.
Masa awal abad ke 18 inilah dibawah kepemimpinan Aria Wira Tanu III Kabupaten Cianjur mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga Cianjur memiliki fungsi sebagai :
1.    Pusat Produksi Kopi di Keresidenan Priangan;
2.    Pusat Perdagangan bagi seluruh wilayah Priangan;
3.    Pusat Pemerintahan Keresidenan.
Dari sinilah kemudian Kabupaten Cianjur dijadikan ibu kota keresidenan priangan sekitar awal abad ke-19 tepatnya pada tahun 1819 atau mungkin lebih awal lagi pada tahun 1816. Sejak dijadikan ibu kota keresidenan priangan, wilayah Cianjur memperoleh perluasan wilayah mencapai 3731 pal persegi dan merupakan wilayah kabupaten terluas diantara kabupaten lain di wilayah priangan seperti Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Limbangan.
Kedudukan ini juga memberikan keuntungan bagi Kabupaten Cianjur yang oleh pihak VOC sangat diperhatikan pembangunan infrastruktur sebagai wilayah administrasi. Diantaranya didirikannya kantor pos utama pada tahun 1821 yang melayani pengiriman surat untuk daerah Buitenzorg dan Batavia wilayah barat sampai dengan wilayah timur yang meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur arah Semarang, Jogjakarta dan Surabaya.
Perkembangan infrastruktur ini juga diikuti dengan semakin banyaknya perkebunan-perkebunan swasta yang ada di wilayah Kabupaten Cianjur meliputi perkebunan kopi, dan teh. Diantaranya meliputi perkebunan-perkebunan yang ada di distrik Ciputri, Bayabang, Cikondang, Jampang Wetan, Cimahi, Cicurug, Pelabuhan, dan Jampang Tengah yang jumlahnya mencapai 116 perkebunan swasta pada tahun 1881. Pada awal abad 20, jumlah perkebunan swasta meningkat menjadi 752 perkebunan. Walaupun pada saat itu produksi kopi di Kabupaten Cianjur telah menurun.
Untuk menunjang lancarnya penjualan produk perkebunan ke wilayah pelabuhan, para pengusaha perkebunan swasta mendesak pemerintah VOC untuk menyediakan sarana angkutan yang cepat dan murah. Atas desakan tersebut maka pemerintah VOC mencoba untuk membangun jalur kereta api baru yang menghubungkan antara jalur kereta yang pertama ada di Jawa Barat, yaitu Batavia dan Buitenzorg atau bogor.
Tahap pertama pembangunan jalur kereta api Bogor ke Cicurug sepanjang 27 km yang selasai pada 05 oktober 1881.
Tahap kedua pembangunan Jalur kereta api Cicurug-Sukabumi sepanjang 30 km yang selesai pada 21 maret 1882.
Tahap ketiga pembangunan jalur kereta api dari sukabumi ke cianjur sepanjang 39 km dan selesai pada 10 mei 1883.
Tahap keempat pembangunan jalur kereta api Cianjur-Bandung sepanjang 59 km yang selesai pada 17 mei 1884.
Pada Pembangunan jalur kereta api dari Bogor ke Cianjur terdapat 2 stasiun dan 10 halte. Kesebelas halte tersebut :
1.    Cicurug,
2.    Parung Kuda,
3.    Cibadak,
4.    Karangtengah,
5.    Cisaat,
6.    Gandasoli,
7.    Cirengas,
8.    Lampegan,
9.    Cibeber, dan
10.  Pasir Hayam
itu lah sedikit kupasan tentang Menelisik Sejarah Cianjur..